Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Perjalanan Penuh Makna: Menginspirasi Latihan Spiritual Melalui Seni, Bagian 9 dari Banyak Seri

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut

Jelajahi Galeri Seni Surga melalui lukisan-lukisan yang memukau, “Mangosteen,” “Hsihu Sunset,” dan “Retreat” karya Maha Guru Ching Hai (vegan). Karya-karya ini diciptakan selama periode damai di Ashram Hsihu, mencerminkan ketenangan, kesederhanaan, dan hubungan yang mendalam dengan alam.

Lukisan-lukisan hebat dihargai di seluruh dunia. Setiap sapuan kuas dapat mencerminkan sejarah, budaya, emosi, dan bahkan berkat, memperkaya pemahaman kita ttg masa lalu, kini, dan masa depan. Sebagai guru spiritual dan seniman yang terkenal di dunia, Maha Guru Ching Hai (vegan) mengangkat derajat kemanusiaan tidak hanya melalui ajaran-ajaran spiritual-Nya, tetapi juga melalui karya seni-Nya yang luar biasa.

Hari ini, kita akan menjelajahi Galeri Seni Surgawi, yang menampilkan karya-karya Maha Guru Ching Hai (vegan). Lukisan-lukisannya dengan indah mencerminkan kemegahan Surga, membawa berkah ke dunia kita, dan memberikan sekilas pandangan ke alam-alam yang lebih tinggi. Melalui karya seniNya, kita diingatkan akan keindahan ilahi dan spiritualitas yang ada dalam setiap makhluk, serta keagungan tempat tinggal Surgawi kita.

Maha Guru Ching Hai (vegan) bukanlah seorang pelukis yang terlatih secara profesional. Namun, bakat seninya mengalir dari kebijaksanaan alam semesta yang tak terbatas. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Guru, karya seni-Nya merupakan perwujudan alam yang lebih tinggi, yang memberikan sekilas pandangan akan keindahan Ilahi dan inspirasi spiritual kepada para penikmatnya.

Master: Dan mungkin, ketika melintas sejenak di depan lukisan saya, sang penikmat akan teringat akan percikan spiritualitas yang ada di dalam dirinya. Itulah aura yang dibawa oleh lukisan atau karya seni saya. Namun, kita harus ingat bahwa seni surgawi semacam ini hanyalah tiruan dari ciptaan surgawi yang sesungguhnya di kediaman Surgawi.

F1: Karya-karya seni ini melampaui nilai-nilai yang umum dipahami dalam menggambarkan sikap sang seniman. Kreativitas dalam lukisan-lukisanNya membangkitkan keindahan murni dalam jiwa kita dan mengukir pesan hidup vegan— sebuah gaya hidup untuk perdamaian—di dalam hati kita.

F2: […] Sejak awal pandemi tahun lalu, Guru telah dengan tulus memohon kepada para Bodhisattva (orang suci) dari alam-alam yang berbeda untuk datang ke dunia ini guna memberkati dan membangkitkan kesadaran umat manusia agar menjadi vegan. Saya mengundang tamu-tamu penting untuk makan di rumah saya dan meminta Guru memberkati makanan itu dan memberi mereka keberanian untuk berhenti makan daging. Berkat kekuatan agung Guru, tiga di antara mereka menjadi vegan, dan dua orang diinisiasi sebelum usia 65 tahun. Mereka sangat bersyukur kepada Guru. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat cetakan replika lukisan-lukisan Guru bersinar dengan Cahaya, dan juga melihat ruang tamu mereka dipenuhi Cahaya saat Supreme Master Television sedang ditayangkan. Setelah inisiasi, mereka juga melihat kerabat mereka benar-benar telah pergi ke alam yang lebih tinggi. Mereka menangis karena begitu bahagia. […]

Hari ini, marilah kita memulai perjalanan spiritual melintasi keindahan surgawi sambil merasakan dan menghargai kemurnian serta keanggunan kehidupan biara Guru. Kita sering membayangkan kehidupan biara yang berpusat terutama pada meditasi, melantunkan kitab suci, dan latihan spiritual. Namun, melalui lukisan Guru, kita juga bisa temukan kehidupan sehari-hari yg dipenuhi ketenangan, keanggunan, dan keindahan puitis.

Antara bulan September dan Desember 1990, Maha Guru Ching Hai (vegan) menciptakan banyak lukisan, termasuk “Mangosteen,” “Hsihu Sunset,” dan “Retreat.” Karya-karya ini memberi kita sekilas gambaran tentang masa yang damai dan relatif tenang dalam hidup-Nya di Ashram Hsihu.

Mari kita mulai dengan “Mangosteen,” sebuah lukisan minyak still-life yang diciptakan oleh Maha Guru Ching Hai (vegan) di Ashram Hsihu. Kisah di balik lukisan ini memberikan gambaran hangat mengenai kehidupan artistik Guru selama periode istimewa ini.

Suatu malam, Maha Guru Ching Hai (vegan) dengan gembira turun dari bukit untuk bergabung dalam meditasi kelompok. Namun, topik khusus dari pertemuan ini adalah apresiasi terhadap lukisan minyak bergenre still-life yang baru saja diselesaikannya. Guru bahkan meletakkan buah manggis di samping lukisan itu agar kami dapat membandingkannya. Warna lukisan yang menyegarkan, hidup dan cerah menyampaikan suasana nyaman seperti di rumah. Dengan mengamati lukisan itu secara seksama, kita akan merasa bahwa buah manggis yang dilukis itu bahkan tampak lebih hidup dan nyata daripada yang asli.

Penggunaan warna oleh sang seniman dan komposisi lukisan itu sama-sama luar biasa. Warna merah memancarkan energi, keseluruhan karya tersebut membangkitkan rasa nyaman dan kehangatan.

Jika diamati lebih dekat, komposisi tersebut memperlihatkan banyak detail yang menawan. Sebuah manggis yang telah dipotong memperlihatkan kulit cokelat-ungu tuanya dan daging yang putih cerah, sementara buah lain yang terbuka menampilkan nuansa merah keunguan yang kaya. Dua buah manggis yang belum dibuka tergeletak tenang di atas meja abu-abu kehijauan, dikelilingi oleh warna hangat interior ruangan. Di balik jendela kecil, tanaman hijau yang rimbun dan sebuah tenda yang bermandikan sinar matahari menyuguhkan suasana damai untuk meditasi dan renungan yang tenang.

Alih-alih sekadar meniru penampilan buah tersebut, “Mangosteen” menangkap keindahan dan ketenangan dari momen biasa. Melalui warna-warnanya yang ekspresif, komposisi yang sederhana, dan suasana yang santai, lukisan ini membangkitkan rasa kedamaian batin dan apresiasi terhadap keindahan tenang dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita lanjutkan perjalanan kita melalui dunia seni Sang Guru dengan “Retreat,” sebuah lukisan yang diciptakan oleh Maha Guru Ching Hai (vegan) selama masa tinggal-Nya di Ashram Hsihu. Jauh di dalam hutan, sebuah tenda berwarna hijau tua berdiri dengan tenang di tengah rimbunnya pohon, dapat dijangkau melalui jalan setapak yang jarang dilalui yang mengarah ke tempat terpencil ini.

Menyatu hampir tanpa batas dengan lingkungan alamnya, tenda tersebut menawarkan ruang yang tenang dan terlindung untuk meditasi dan kontemplasi. Pemandangan ini membangkitkan rasa ketenangan yang mendalam, seolah-olah seluruh hutan turut merasakan semangat damai dari retret tersebut.

Maha Guru Ching Hai (vegan) menciptakan lukisan ini selama retret di Ashram Hsihu di Miaoli, Formosa. Dalam lukisan tersebut, pepohonan tumbuh berdekatan satu sama lain. Walau warnanya mungkin tampak sederhana pada pandangan pertama, Guru sebenarnya menggabungkan sepuluh warna berbeda untuk menciptakan nuansa yang kita lihat. Guru berkata, “Setelah melihat lukisan ini, adakah yang merasa ingin mengikuti retret? Hutan ini begitu indah! Begitu cerah dan penuh warna.” Selain menyampaikan suasana damai dari retreat, lukisan ini juga mengekspresikan vitalitas yang melimpah dari pepohonan dan dedaunan. Lukisan ini mencerminkan kepekaan mendalam sang seniman terhadap kehadiran makhluk lain serta kegembiraan tak terhingga yang muncul dari rasa kesatuan batin dengan seluruh ciptaan.

Perpaduan harmonis antara warna kuning, kuning kehijauan, hijau rumput, biru kehijauan, hijau tua, kuning kecokelatan, dan hijau kecokelatan secara halus menyampaikan kekayaan lingkungan hutan. Di tengah pemandangan alam yang semarak ini, tenda terpencil tersebut menjadi simbol kesederhanaan, kedamaian, dan praktik spiritual.

Lukisan ini mengingatkan kita bahwa tempat yang benar-benar berharga tidak ditentukan oleh kemewahan, melainkan dari apakah dia bisa membuat kita melihat ke dalam, bermeditasi dengan damai, memperdalam praktik spiritual kita. Dikelilingi oleh alam, bahkan tempat peristirahatan yang paling sederhana pun dapat menjadi tempat perlindungan utk kebangkitan batin.

Dari tempat perlindungan yang tenang dalam “Retreat,” marilah kita kini mengalihkan pandangan ke keindahan yang bersinar dari “Hsihu Sunset,” sebuah karya yang menangkap kemegahan senja yang singkat di pegunungan.

Suatu sore saat matahari terbenam, Maha Guru Ching Hai tiba-tiba merasakan gelombang inspirasi dan mendirikan kuda-kuda lukis di balkon di depan rumah kaca. Menghadap matahari terbenam, Guru dengan bebas melukis beberapa sapuan kuas spontan, dan segera pegunungan berliku serta warna-warna senja yang berkilau menjadi hidup di atas kanvas. Dalam waktu kurang dari lima menit, malam telah tiba. Guru meletakkan kuasnya, meninggalkan lukisan yang belum selesai pada saat itu. Dengan gembira, ia mengundang para murid yang tinggal di sana dan sesama peserta inisiasi untuk datang dan mengagumi pemandangan senja di lukisan itu. Dipenuhi rasa takjub dan kekaguman, semua orang sejenak kehabisan kata-kata untuk menggambarkan pemandangan indah di hadapan mereka. Baru pada retret meditasi berikutnya di Pingtung, Guru akhirnya menyelesaikan lukisan tersebut.

“Hsihu Sunset” menyajikan tampilan pemandangan dari atas yang khas dari lanskap pegunungan di sekitar Hsihu. Sebuah jalan pegunungan yang lurus membelah puncak-puncak hijau, dan jejak batu yang terekspos tampak di sepanjang lereng yang terukir. Gunung, batu, dan pepohonan digambarkan dalam lapisan hijau yang halus, sementara jalan abu-abu pucat dengan tenang mengarahkan mata melintasi lanskap tersebut.

Namun, fokus utama lukisan ini adalah langit senja yang bersinar cerah. Awan berwarna oranye, merah, merah muda, dan keemasan bersinar di atas pegunungan yang berliku, sementara cahaya warna biru muda masih terlihat di dekat cakrawala. Walau awan abu-abu menunjukkan malam yang semakin mendekat, warna-warna cemerlang matahari senja terus mengisi pemandangan dengan kehangatan dan keajaiban.

Guru pernah berbicara tentang bagaimana rahmat ilahi terkadang dapat terungkap dalam awan dan langit. Dalam “Hsihu Sunset,” warna-warna yang bersinar di atas pegunungan mengajak kita untuk berhenti sejenak di hadapan keindahan ciptaan dan merasakan hubungan yang tenang dengan Surga.
Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (9/9)
1
Hiburan yang Mencerahkan
2025-12-18
7725 Tampilan
2
Hiburan yang Mencerahkan
2026-01-22
6795 Tampilan
3
Hiburan yang Mencerahkan
2026-03-19
5682 Tampilan
5
Hiburan yang Mencerahkan
2026-05-28
5360 Tampilan
6
Hiburan yang Mencerahkan
2026-06-25
5164 Tampilan
7
Hiburan yang Mencerahkan
2026-07-30
4522 Tampilan
8
Hiburan yang Mencerahkan
2026-09-21
2439 Tampilan
9
Hiburan yang Mencerahkan
2026-10-12
1125 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Antara Guru dan Murid
2026-10-16
6 Tampilan
Ringkas
2026-10-15
375 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-10-15
674 Tampilan
31:03
Berita Patut Disimak
2026-10-14
317 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh